Sabtu, 23 Januari 2010

sejarah kerajaan ketapang

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam menjelujur benang merah yang merentang perjalanan panjang dan jauh yang bermula dari pengembaraan seorang putra Majapahit “prabu Brawijaya” ditakdirkan sampai di pantai Selatan Borneo Kalimantan Barat, memasuki sungai pawan, mudik ke hulu sungai keRiau di baginci Ulu air “Kerajaan Suku Dayak”.
Dari sinilah langkah awal berdirinya Kerajaan Tanjung Pura di Benua lama sekitar abad 13-14 yang lalu. Setelah dua keturunan, mengayun langkah lagi ke daerah pantai Kerajaan Sukadana sampai delapan keturunan. Kemudian dari Sukadana ke Sungai Matan, Kerajaan Matan di hulu Sungai Melano, menurunkan empat keturunan. Diujung perjalan inilah penyebar anak keturunannya menjadi raja-raja di seluruh Kalimantan Barat.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini membahas tentang Kerajaan Sukadana yang rumusan masalahnya, di antaranya:
1. Bagaimana berdirinya kerajaan Sukadana berdasarkan Ceritera Rakyat?
2. Siapakah raja-raja yang memerintah Kerajaan Sukadana?
C. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas makalah Historiografi dan diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
BAB II
PEMBAHASAN

KERAJAAN SUKADANA

Sejarah Kalimantan Barat pada umumnya berlatar belakang cerita rakyat. Hal ini terjadi karena sukar sekali mendapatkan tulisan-tulisan autentik konkrit seperti harus. Namun cerita rakyat tak kurang pentingnya, kerena bersumber dari mereka yang benar mengalaminya.
Kedatangan Prabu Jaya anak Brawijaya dari jawa, mengawini Junjung Buih telah menurunkan raja-raja berturut memerintah kerajaan yang sering berpindah-pindah lokasi dan namanya. Kerajaan ini telah di mulainya di Kuala Kandang Kerbau, berpindah ke Sukadana, kemudian pindah lagi. Kerajaan Sukadana di lanjutkan oleh raja Akil dari Siak Indragiri. Kerajaan Tanjungpura jalan terus sambil berpindah lokasinya. Karena telah berkembang biak keturunannya, kerajaan membagi dirinya. Pangeran Agung mendirikan cabang kerajaan di beri nama kerajaan Simpang mendirikan ibu kotanya di Simpang.
Kerajaan Tanjung Pura tetap hidup subur dan lancar dan akhirnya berubah nama Kerajaan Matan oleh Penembahan Busrah yang telah memindahkan ibu Kota pemerintahannya dari Tanjung pura ke Kerta Mulia.
CERITERA RAKYAT
Kurang lebih enam ratus tahun lampau seorang Daya Laman Kenduruhan menuturkan kisah sekeluarga. Seorang bapak bernama Bintan Putin dengan istrinya bernama Ratu Bintan Cuka. Kedua suami isteri ini telah di karuniai dua orang anak, yang lelaki bernama BUJANG BENGKUNG dan perempuan bernama DARA DON DANG.
Hidup kedua anak tersebut sangat berkasih-kasihan. Tak mau lepas seorang dengan yang lain. keduannya hidup tak mau berpisah. Baik makan, tidur apalagi bermain, selalu bersama-sama, hal ini di karenakan tak ada orang lain yang dapat mereka gauli. Pergaulan yang sangat intim ditambah dengan alam sekitarnya kosong untuk mereka, terjadilah suatu hubungan dorongan alamiahnya yang masing-masing saling membutuhkan. Suatu perbuatan lumrah bagi kedua insan yang tak dapat melarikan kebutuhannya alamiahnya kepada yang lain. walaupun perbyatan ini selalau mengejar perasaan bersalah bagi keduanya. Mereka di karuniai tujuh anak, anak-anak mereka hidup dan telah mengembangkan keturunnya. Ketujuh anak kakak beradik kedapatan perempuan belaka..yaitu :
DAYANG PUNTA,DAYANG BAKALA, DAYANG BERCANDI, DAYANG BEKERIS, DAYANG BERIMBUNG, DAYANG BERCALUNG, DAYANG PUTUNG..
Ketujuh puteri ini tak ada seorang pun yang menetap di daerah kelahiraanya. Semuannya telah berangkat meninggalkan tanah tumpah darahnya, di hulu sungai keriau. Keturunan raja Ulu Air.
Dari ketujuh kakak beradik tersebut, Dayang Putung alias Junjung Buih yang lebih di tonjolkan, karena dari keturunannya terurai raja-raja Kerajaan tanjung pura.

Kerajaan Sukadana merupakan cikal bakal Kerajaan Tanjung Pura, yang merupakan salah satu kerajaan tertua di Kepulauan Kalimantan yang kedudukannya disejajarkan dengan kerajaan-kerajaan lainya di Nusantara.
Namun para sejarahwan menghadapi kesulitan untuk mengungkapkan secara lengkap tentang Kerajaan Sukadana tersebut. Hal ini disebabkan benda-benda peningggalan yang merupakan sumber yang dapat memberikan keterangan tidak didapati lagi bekas bangunan Kerajaan, monumem atau candi-candi serta situs-situs lainnya, bigitu pula dengan catatan tertulis yang dapat mendukung kebenaran dari cerita-cerita rakyat yang di kisahkan secara turun temurun dari mulut ke mulut. Semuanya tanpa adanya bukti tertulis yang autentik, namun terus hidup di kalangan masyarakat.
Selain itu kurangnya pemeliharaan terhadap sisa-sisa peninggalan dan situs-situs yang masih ada yang menyebabkan banyaknya benda-benda peninggalan yang rusak dan hilang. Seperti yang terjadi pada situs Kerajaan Sukadana yang sejak tahun tujuh puluhan menjadi sentralisasi pembalakan hutan.
Sumber Kerajaan Sukadana dalam Negarakartagama, pada masa Kerajaan Singosari dan Majapahit dengan sumpah palapa, belum ada menyebutkan sukadana, yang ada hanya Landak Kendawangan, Kapuas, Simpang, Melano. Sejarah Indonesia mulai banyak menyebut Sukadana ketika di hubungkan dengan Kerajaan islam Makasar. Dengan jatuhnya kerajaan Islam Makasar(1669), maka Sukadana menjadi Bandar perniagaan yang ramai dan menjadi salah satu pusat perdagangan sehingga mulai banyak di kenal.
Raja-Raja Sukadana
a.) Penembahan Karang Tunjung (1487-1504)
Dinasti Brawijaya beragama Budha, dan gelar penembahan baru dia mulai pada masa raja pertama Karang Tunjung sekitar abad 15 di mana saat itu Sukadana mulai berkembang menjadi kota perniagaan yang ramai, sehingga perekonomian dan kemakmuran rakyat semakin meningkat.
b.) Gusti Syamsudin/pundong prasap bergelar penembahan Sang Ratu Agung(1504-1518)
Pada masa kekuasaan Sang Ratu Agung ( Putra penembahan Karang Tunjung) Sukadana semakin maju dan berkembang. Pada masa penembahan ini gelar gusti mulai di pakai, gelar di lingkungan kerajaanbukanlah menunjukkan kasta, tapi berupa ikatan kekerabatan, menganut garis lurus laki-laki atau bapak .
c.) Gusti Abdul Wahab Bergelar Penembahan Bendala (1518-1526)
Penembahan Bendala adalah anak Sang Ratu Agung yang bergelar penembahan Air Mala. Penembahan bendala seperti raja-raja sebelumnya memajukan dan memakmurkan Sukadana. Hampir semua bidang kehidupan rakyat mendaoat perhatiaanya, seperti dalam bidang pertanian, perdagangan, dan kelautan.
d.) Penembahan Pangeran Anom (1526-1533)
Sewaktu penembahan bendalah yang masih muda itu meninggal dunia, putra mahkota yang bakal menjadi pengantinya masih kecil, pemerintahan dipangku oleh adiknya pangeran Anom. Pengeran Anom bergelar penembahan Sukadana, setelah ia meninggal dikenal sebagai Marhum Ratu.
e.) Penembahan Baroh ( 1533 – 1590 )
Penembahan Baroh atau dikenal dengan pangilan pangeraan di baroh. pada masa penembahan Baroh, agama islam sudah mulai berkembang yang dibawa oleh orang dari Palembang pada permulaan tahun 1550, tetapi penembahan sendiri belum memeluk islam. Agaknya pendirian kerajaan Matan merupakan strategi penyelamatan daan pengamanan kedudukannya di Sukadana, apabila suatu ketika Sukadana semakin lemah pertahanannya akibat perperangan, perebutan Hegonomi dan persaingan ekonomi perdagangan.
f.) Gusti Aliuddin / Giri Kesuma bergelar panembahan Sorgi (1590-1604)
Setelah meninggalnya penembahan Baroh,, di angkatlah Giri Kesuma yang juga di sebut penembahan Sorgi. Dia adalah penembahan yang pertama kali menganut agama islam. Sejak itu dia sering berhalwat mendekatkan dirinya kepada Allah karena itu beliau bergelar Panembahan Sorgi. Pada jamannya datang utusan dari Makatulmasyrafah Syech Syamsudin, Imam kari dan Kadi Jamal yang membawa bingkisan sebuah Al Quran, sebentuk cicin permata Yakkult merah dan baju kebesaran.
g.) Ratu Mas Jaintan (1604-1622)
Setelah mangkatnya penembahan Giri kesuma, sedang putra mahkota Giri Mustika masih kecil, maka oleh majelis di tunjuklah permaisuri Ratu Mas Jaintan sebagai Mangku Bumi dengan gelar Ratu Di Atas Negeri. Pada masa Ratu Mas Jaintan terjadi perang Kendal. Sultan Agung dari Mataram mengirim armada yang di pimpin Bupati Kendal Baurekso ( Baraksya) dan Irasyasa dengan tujuan memutuskan hubungan Sukadana-Surabaya(1622). Ratu Mas Jaintan akhirnya di tangkap dan di asingkan ke Mataram.
h.) Gusti Kesuma Matan/Giri Mustika ( Sultan Muhammad Syafiuddin0 1622-1665.
Gusti Kesuma Matan/Giri Mustika Putra Mas Jaintan, bergelar sultan Muhammad Syafiuddin adalah raja pertama yang menggunakan gelar Sultan gelar yang bernuansakan islam.
Sejak di serang oleh Sultan Agung dari Mataram tahun 1622 kekacauan demi kekacauan terjadi, dan gangguan bajak laut semakin merajalela sepanjang perairan pantai dan selat karimata, yang mengakibatkan semakin lemahnya pertahanan Sukadana sehingga membuat Sultan Muhammad Zainuddin mengalihkan pusat pemerintahannya ke Matan. Pada masa pemerintahan Panembahan Borah telah merintis perluasan kekuasaannya ke daerah pedalaman sungai Melano, yaitu di desa Matan, sekarang di sebut desa Batu Barat. Pengembangan pusat ke kuasaan ke Matan ini, adalah juga dalam usaha mengembangkan agama islamyang telah masuk ke Sukadana, dengan pindahnya kekuasaan ke Matan maka kosonglah Sukadana lebih 100 tahun lamanya.
Ibu kota kerajaan beberapa kali mengalami perpindahan dari satu kota ke kota lainnya. Perpindahan ini karena adanya musuh atau perompak bajak laut yang di kenal juga dengan lanon,.,.konon menurut cerita bajak laut tersebut sangat ganas, sehingga meraja lela di seluruh pelosok daerah. Kerajaan Tanjung Pura yang juga dikenal sebagai Kerajaan besar juga menjadi incaran kerajaan lain yang bermaksud untuk menaklukkanya, oleh karena itu berpindah pindah adalah dalam rangka mempertahankan diri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar